Sahabat, masih ingatkah kau tentang kisa ini? Saat kita kecil dulu ...
Ini bukan tentang cinta monyet anak ingusan, bukan pula perjalanan hidup yang drama, tetapi cerita tentang seseorang yang membuat kita mengerti tentang semua hal yang baru akan di pahami oleh orang yang di sebut 'remaja'. Tetapi dia? Membuat kita mengerti sebelumnya untuk mempelajarinya kemudian hari.
Ingatkah?
Hari itu dimana beliau menjadi orangtua di sekolah kita. Beliau mendapat amanah besar untuk menjadi wali kita. Awalnya, aku sempat berpikiran bahwa beliau tidak se-care wali kita di tingkat sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, pikiranku berubah.
Sahabat,
aku ingat satu pengalaman inspiratif saat beliau menjadi wali kita. Berawal dari masalah sepele yang menjadi hebat. Pipa kamar mandi sebelah ruangan kita yang bocor, dan airnya merembes masuk ke ruangan kita. Masalah pipa bocor semakin besar dan perbaikan tak kunjung datang. Satu per satu tekel di sudut barat daya ruangan mulai di lepas akibat rembesan air dari pipa bocor tersebut. Di mata semua orang sebuah ruangan dengan tekel yang hilang separuh akan terlihat cacat. Jelek.
Tapi, Sahabat,
amazing him. Beliau berhasil mengubahnya menjadi cantik lagi. Bukan dengan di pasangin tekel lagi, atau karpet, atau plastik, atau apalah yang lainnya. Tetapi beliau, dengan mengambil satu jam pelajaran, meminta kita semua mengumpulkan kerikil putih atau abuabu yang cantik. Kemudian, mereka yang putra dengan badan bongsor di tugaskan membantu beliau mengangkat 3 pot besar yang di tanamkan daun-daun sedang. Mereka mengambilnya dari koridor belakang ruangan. Sekitar 30 menit kemudian, kita yang bertugas mencari kerikil cantik pun kembali dengan membawa banyak sekali gendongan kerikil putih dan abu-abu. Ada yang hanya menggunakan tangan, ada yang menggunakan kertas, dan terakhir menggunakan plastik.
"Ya, anak-anak, sekarang letakkan kerikil-kerikil itu secara berhamburan di sekitar pot. Jangan naik ke atas tekel ya." Kurang lebih, begitulah beliau memerintahkan kita yang membawa krikil. Dengan sigap kita meletakannya. Menurut pengelihatanku sih sedikit acakadul krikilnya. Tetapi beliau tidak tinggal diam, begitu kita menjauh dari area yang telah di hiasi pot dan krikil itu, Beliau segera merapikan krikil-krikil tadi dengan cepat dan rapih. Alhasil, ruangan kita yang awalnya terlihat cacat tersihir menjadi taman yang indah.
Sahabat,
setelah cerita nostalgia tadi, masihkah kalian mengingat semuanya? Tentang Beliau yang membagikan kreatifitasnya pada kita, tentang Beliau yang membagikan pengetahuannya, tentang Beliau yang selalu mempunya sejuta ide untuk memperbaiki yang rusak, dan tentang Beliau yang menjadi wali pertama yang mengajarkan kita tentang kehidupan luar. Semoga kalian masih mengingatnya, sebab aku saja yang tak pandai dalam menghapal masih mampu mengingat setiap memori itu dengan baik :)
Dari cerita ini, ku sampaikan sejuta salamku untuk para sahabat abadiku, yang menemani setiap masa kecilku yang kemudian beralih menjadi remaja. 6 tahun tanpa di pencar. 6 tahun tanpa pemecahan kelas. 6 tahun dengan tetap 1 kelas untuk satu angkatan 2009.
Salam rinduku untuk kalian yang sekarang entah merimba kemana,
Aulia CRN (uli), A Darasita A (raras), Athaya L (aya), Adnan P (adnan), Aida RD (ajat), Awal AF (aso), B Muthi'ah EP (muthi'ah), Chaesari S (sari), Dita C (dita), Dandy AT (dandy), Dinda DR (dinda), D Fajrin (fajrin), Erwin, Geraldo BM (aldo), G Christie K (christie), GK Intaning P (intan), Isdina FSS (isdina), I Adji MS (aji), J Kurniadi D (adi), Jenada GP (jena), Mario B (mario), M.R Gizara (gizar), M. Barqil KA (barqil), M. Husein (husein), M. Fauzan H (ocan), M. Fachri Y (fachri), M. Febrianza EP (febri), M. Rizky K (rizky), Nidia B (nidia), Nurfadhilah SS (neno), Nurul KW (nurul), Ranggo APH (ranggo), Zulfikar AA (fikar).
Dan terakhir, salam rindu dan terimakasihku untuk Beliau wali ter-inspiratif kami,
Sir Abdul Hakim Alle (yang hari ini tengah mengejar impiannya yang pernah ia tuturkan pada kami, berdiri di Amerika) :')
Yogyakarta, 13 Januari 2013
Ketikan Pemimpi
No comments:
Post a Comment